Selasa, 16 April 2013

Rindu Jalan Jalan


Karena sebenarnya jalan-jalan bukan sekedar menyaksikan kemahahebatan alam. Tak sekedar pukauan gundukan tanah berisi larva, atau hijau daun yang mengingatkan warna surga. Jalan-jalan membantu kita menemukan bagian yang hilang dari diri kita. Kita menemukan satu budaya baru. Perjalanan mengajarkan kita menyelami perasaan mereka. Membaca hidup dari berbagai sudut pandang. Menilai kembali kehidupan dengan “kacamata” baru. Pulang kembali dengan kebijaksanaan yang tidak lagi sama.



Aku Rindu Jalan-jalan.

Minggu, 30 Desember 2012

Selimut Debu




Nama Buku         : Selimut Debu
Penulis                 : Agustinus Wibowo
Harga Buku         : Rp. 75.000,00*
Tebal Buku          : 461 Halaman

“Berapa harga kepala kambing ini?”

“Lima puluh Afghani”

“lima puluh? Terlalu mahal. Dua puluh saja”.

“Apa? Dua puluh? Kau Gila. Kau kira ini kepala manusia”.

                                                                                                                      ….

Apa yang anda bayangkan ketika mendengar nama Afghanistan?
Kebanyakan orang akan mengorientasikannya pada Si Taliban. Si Komunis.  Si teroris dan segala kisah tentang bom, ranjau, dan segala keganasan negeri perang. Akan tetapi, ternyata tak sampai disitu, banyak misteri yang tak terungkap dari balik gunung-gunung Ghor dan Hazarat, dari pedalaman Gurun Laili, dari taman surga di Bamiyan, dan dari tepian sungai Amu Darya. Misteri-misteri itu kini tertuang dalam torehan pena dalam buku Selimut Debu.

Buku dengan tebal 461 halaman ini khusus menggambarkan tentang satu negeri. Dialah Afghanistan. Negeri tua tempat peradaban mulai berayun, berputar, dan berjalan. Kota-kota kuno tegak, kejayaan masalalu berpendar, tanah berdebu yang sejak dulu hingga kini diperebutkan para penguasa dunia.

Buku ini adalah buku kisah perjalanan petualangan Agustinus Wibowo selama beberapa tahun di Afghanistan. Akan tetapi, tak seperti buku petualangan lainnya, buku ini kaya akan nilai sejarah, budaya, dan antropologi. Pria yang mengusai  lima belas bahasa ini, menelusuri seluk beluk Afghanistan  dari Pakistan, hingga perbatasan Tajikistan dan iran. Ia juga melalui jalur Khyber pass. Jalur yang dulu dilintasi para penakluk dunia, mulai Iskandar Agung, Timurleng, Babur, Mahmud Ghaznavi, jalur saat islam pertama menyebar di Asia selatan. Kemampuannya menguasai bahasa dan perjalanan yang menyatu dengan budaya tempat ia berpijak, membuat buku ini mampu mengajak kita meresapi kehidupan perjuangan penduduk afghanistan ditengah deraan derita perang, ikut bermimpi bersamanya dan ikut menangis dari balik selimut debu tanah Afghan.

Seperti apakah perjuangan orang-orang afghan bangkit dari derita perang?
Bagaimana kehidupan kaum minortitas syiah dan Ismailia ditengah masyarakat yang disebut-sebut konservatif dan fundamentalis?
Seperti apa primordialisme antar etnik disana?
Seperti apa keadaan islam di negeri tempat produksi opium terbesar di dunia? Karena Tak jauh dari peninggalan masjid disana, ladang-ladang Opium tumbuh subur lalu siap dipasarka ke seluruh dunia?
seperti apa mimpi-mimpi mereka?
Jawaban-jawaban tersebut ada dalam buku ini.

Galery hasil dokumentasi perjalanan dapat dilihat di :http://www.avgustin.net/gallery.php

_Hanifah Fitri, 1 Januari 2013_

Senin, 01 Oktober 2012

Keliling Pulau Onrust, Pulau Kelor, Pulau Untung Jawa, dan Pulau Rambut

Ekosotika Pulau Ondrust



prasasti Pulau Onrust
Pulau ondrust berasal dari bahasa belanda yang apabila diformasikan ke bahasa inggris dari kata un-rest yang artinya tak beristirahat. Pulau ini dahulu adalah pulau tersibuk di Indonesia. Pulau ini menjadi basis pertahanan maritim belanda untuk menjaga daratan sunda kelapa (Jakarta). Tapi sampai sekarang pulau ini kosong. Hanya dihuni oleh satu orang penjaga pulau dan seorang ibu penjaga warung yang berjualan makanan dan minuman kecil namun saat malam ibu penjual kembali pulang  ke rumahnya di Jakarta. Sempat saya bertanya pada ibu penjual tentang siapa yang biasa membeli jualannya mengingat pulau ini sepi dan sulit di akses. “Ada saja neng, biasanya orang-orang bule”.



Saya menarik nafas panjang, bahkan turis asing lebih mencintai sejarah Indonesia ketimbang bangsanya sendiri. T_T
Di pulau ondrust kami menjelajahi museum yang dahulunya kantor VOC, dari museum ini kami mendapat gambaran seperti apa sibuknya pulau ini dahulu. Di museum ini terdapat peninggalan-peninggalan zaman belanda dan replika bangunan-bangunan yang sebagian sudah runtuh. Konon pulau ini memiliki simpanan harta tak ternilai peninggalan VOC yang dicuri era tahun 80an. Sebab itu pulau ondrust dijadikan sebagau pulau cagar budaya.
Reruntuhan barak karantina haji Pulau Onrust
 Puas mengelilingi penjara dan makam-makam belanda, kami pergi melihat reruntuhan barak karantina Haji. Zaman belanda, jemaah haji yang akan berangkat dan pulang dari tanah suci dikarantina di pulau ini selama satu bulan. Tujuannya untuk meredam semangat berjuang yang tumbuh paska pulang dari tanah suci. Setelah Indonesia merdeka, barak karantina ini digunakan untuk melokalisasi jemaah haji yang terkena sakit kusta. Kini barak karantina haji tak lagi difungsikan. Seiring tak lagi difungsikannya kapal sebagai sarana transport ke tanah suci. Kami hanya bisa melihat puing-puing sisa bangunan yang kosong. Butuh waktu bagi saya untuk menyadari bahwa di pulau tempat kaki saya berdiri pernah terjadi peristiwa sejarah yang luar biasa.
Pulau ondrust dekat sekali denga pulau cipir, dahulu terdapat jembatan penyebrangan sebagai akses kedua pulau ini. Namun sejak letusan Krakatau tahun 1883 jembatan ini runtuh. Saya sangat ingin menginjakkan kaki kesana. Tetapi waktu seolah tak mengzinkan.





Eksotika Pulau Kelor

Karena keterbatasan waktu, dari 3 pulau dalam gugus pulau ondrus kami hanya sempat mengunjungi pulau kelor. Sekedar informasi untuk pulau bidadari, dekat pulau ondrust, untuk berlabuh dipulau tersebut dikenakan biaya Rp. 50.000, sebab kabarnya pulau bidadari sudah dibeli oleh pihak Ancol. Pulau kelor, tak seorangpun yang menetap disana. Hanya ada sisa benteng berbata merah (benteng Martello) dan beberapa pohon perdu. Benteng Martello tak lagi utuh karena bencana tsunami tahun 1966 dan letusan Krakatau tahun 1883. Benteng Martello adalah pusat pengintaian dari pertahanan maritime belanda. Meriam dari benteng ini bisa  kami lihat di pulau ondrust. Benteng ini terletak paling tepi. benteng yang mirip cerobong asab ini melingkar membentuk sudut 360◦. Pulau yang dahulu lebih dikenal dengan pulau kherkof terancam tenggelam. Dahulu luas pulau ini 1.5 ha. Sekarang kurang dari 1 ha.  Itu sebabnya pulau ini didominasi pasir ketimbang tanah. Karena hamparan pasirnya luas, awalnya kami berencana shalat berjamaah dipulau ini tetapi karena udara terlampau panas niat tersebut kami urungkan.  Oh ya belakangan saya dengar pulau ini biasa menjadi tempat pemakaman. Dahulu, tahanan dan jemaah haji yang meninggal dikuburkan di pulau ini. Jika saja pulau kelor digali, kita akan menemukan banyak tengkorak manusia. Berbagai cerita mistis tentang pulau ini terutama tentang kucing-kucing yang hidup di pulau inii. Hgrr…




Bersenang-senang di Pulau Untung Jawa
Setelah puas mengeliligi pulau yang kaya akan sejarah, kami pergi menuju pulau Untung Jawa. Dengan kapal yang kami naiki, hanya butuh waktu 15 menit untuk bisa sampai ke Pulau tersebut dari pulau onrust. Melabuhkan perahu ke darmaga kapal kami dikenakan biaya Rp.35.000,00-. Pulau Untung Jawa termaksud Pulau wisata. Sebab itu, akses transportasi ke pulau ini relative lebih mudah. Bisa menggunakan kapal umum dari Muara Angke (Jakarta) dengan biaya Rp. 25.000,-atau dari pelabuhan Tanjung Pasir (Tanggerang) dengan biaya Rp. 10.000. Untung Jawa selain memiliki pantai yang Indah, terdapat juga taman tempat konservasi Mangrove, berbagai wahana bermain anak-anak dan banana boot, serta penginapan penduduk dengan  berbagai macam harga. Ditempat ini saya dan teman-teman menyewa tenda, bermain banana boot, shalat, dan makan bersama. Pulau ini cukup menyenangkan. \

Pulau Rambut si Pulau Burung.
Uniknya alam Indonesia, meski Pulau Rambut terletak dekat sekali dengan Pulau Untung Jawa, ia memiliki topogafi dan keunikan tersendiri. Berbeda dengan pulau disebelahnya Untung Jaw, di pulau yang luasnya tak sampai 1 ha ini, didiami lebih dari 50.000 jenis spesies burung. Apabila ingin pergi ke Pulau tersebut hanya perlu menyewa perahu dari Pulau Untung Jawa dengan Biaya Rp. 10.000,-. Jika ingin pergi dan melihat burung-burung bisa menyewa guide dengan Rp. 5000,- untuk jumlah peserta lebih dari 10 orang. Pulau rambut adalah penutup perjalanan kami, sayangnya sekali lagi karena keterbatasan waktu, kami tak sempat berkeliling-keliling pulau ini. Meski begitu kami tetap merasa senang. 

Catatan.
1.       Tak ada tranportasi umum untuk bisa pergi ke Pulau Onrust, Kelor, dan Cipir. Harus menyewa perahu dari Muara Angke, Muara Kamal, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Pelabuhan Tanjung pasir. Harga perahu Rp. 800.000,- sampai Rp. 2.000.000,- bergantung besar dan ukuran kapal.
2.       Pelabuhan terdekat dari pulau tersebut adalah pelabuhan Tanjung Pasir.
3.       Untuk menekan biaya, sebaiknya pergi ke Pulau gugus cagar budaya (P. Kelor, P. Onrust, P. Cipir) bersama komunitas.
4.       Sewalah perahu jauh hari dan berangkat pagi-pagi untuk menjauhi ombak yang relative lebih besar disiang hari.
5.       Jika ingin pergi ke Pulau gugus cagar budaya (P. Kelor, P. Onrust, P. Cipir), bawalah perbekalan makanan yang cukup, karena penjual makanan hanya ada di P. Onrust dan harganya relative lebih tinggi dari harga makanan umumnya.
6.       Pergi ke Pulau Untung Jawa bisa menggunakan kapal Transport kapasitas 150 orang berangkat dari Muara Angke Pukul 06.00-07.00 WIB dan jam 13.00-14.00 WIB dengan harga Rp. 25.000,- Atau mengguanakan perahu nelayan dari Pelabuhan Tanjung Pasir Rp. 10.000-Rp. 20.000. Waktu perjalanan dari kedua pelabuhan tersebut sekitar 20-30 menit.
7.       Pergi ke Pulau Untung Jawa juga bisa menggunakan kapal kerapu (Kapal Boot), dari ancol dengan harga Rp. 25.000* berangkat pukul 06.00 WIB dan 13.00 WIB. Akan tetapi, perahu ini sering menjadi minta para wisatawan sehingga banyak wisatawan akhirnya tak mendapat tiket. Bahkan beberapa wisatawan yang ingin menggunakan kapal ini mengantri sejak jam 03.00 pagi demi mendapatkan tiket kapal. Jika Ombak besar, kapal kerapu pukul 13.00 WIB tidak diberangkatkan.

8.       Untu bisa pergi kepulau rambut bisa menggunakan jasa perahu nelayan dari Pulau Untung Jawa Rp. 10.000-Rp. 20.000*

Rabu, 26 September 2012

Perjuangan Ke Pulau Onrust


Setiap kali saya melewati laut Jakarta, Mata saya selalu tertuju pada pulau Ondrust dan kelor. Pulau kelor  ini kecil, berpasir, dengan sisa bangunan benteng tua, dan satu buah pohon besar. Jika tidak benar-benar menginjakkan kaki kepulau tersebut, setiap orang yang melihat akan berpikir, pohon besar itu adalah satu-satunya pohon di Pulau kelor. Ondrust pun tak kalah menantang, tak jauh dari pulau kelor, reruntuhan bangunannya yg padat mengisyaratkan misteri yang membuat hati saya dihinggapi rasa penasaran yang membuncah. Kemisteriusannya memanggil-mangil hati saya menciptakan kebulan mimpi baru yang ingin saya wujudkan.

“Suatu hari saya akan kesana!”
Pergi ke Pulau Ondrus, dan kelor tak semudah pergi kepulau seribu lainnya. Kedua pulau itu adalah pulau cagar budaya. Tak ada kapal umum yang berlabuh disana. Harus menyewa perahu dari pelabuhan Jakarta, atau pelabuhan Tanjung Pasir tanggerang. Biaya sewa kapal berkisar Rp. 800.000- Rp. 2.000.000, bergantung besar dan ukuran kapal.
Saya mencoba mencari kapal kecil di muara angke, tempat banyak kapal-kapal umum menyewakan jasa transportasi umum ke beberapa pulau seribu. Tak satu pun kapal yang berhenti di Pulau Ondrust. Saya pergi menawar kapal-kapal kecil pada nelayan-nelayan disekitar muara tersebut. Tawar-menawar berlangsung alot, semakin saya menawar semakin teriris rasanya hati ini.
“Pak, delapan ratus ribu aja ya pak? murahinlah pak sama mahasiswa, kantungnya tipis-tipis, belum pada kerja”. Bujukku.
“Nggak kurang lagi neng, neng enak jadi mahasiswa, punya masa depan. Makan tinggal makan, saya hari ini makan, besok belum tentu bisa makan, buat anak istri semua serba kurang”. Jawab nelayan penjaga kapal milik seorang saudagar china.
Miris rasanya, puluhan buruh nelayan berkulit legam selegam kehidupan yang menyapa mereka justru menjadi budak di negeri sendiri yang kaya alamnya. Sementara orang kulit putih, setiap hari jutaan uang mengalir untuknya, tersembunyi dalam bungunan-bangunan tinggi tak jauh dari perkampungan kumuh nelayan pribumi dalam komplek perumahan mewah. Beginikah sisi kelam kehidupan negeriku. Negeri yang amat kucintai.
Dengan perasaan nyaris putus asa saya pergi beranjak pulang. Sampai akhirnya pertolongan Allah datang. Tak sengaja saya bertemu dengan seorang ikhwan kepanduan disana. Berkat bantuannya saya bisa mendapatkan kapal untuk pergi kelima pulau-pulau sekitar ondrus dengan biaya Rp. 1.000.000, kapasitas 50 orang dengan fasilitas 1 kamar mandi.
Dengan biaya Rp. 1.000.000 dibagi 30 orang, kami hanya perlu patungan Rp 30.000 untuk bisa pualng-pergi berkeliling-keliling pulau kelor, ondrus, rambutan dan untung jawa. Alhamdulillah..

HOREE!! KITA JADI KEPUALU ONDRUST!



(Bersambung)

Selasa, 15 Mei 2012

Hebatnya Pendidikan Belanda Dalam Mewujudkan Inovasi "Gila"


Apakah yang ada dalam pikiran anda ketika mendengar kata “Cerdas”?.

Kebanyakan dari kita sering kali menyandingkan kata cerdas dengan orang yang ahli dalam berhitung, menganalisis, dan menghafal. Padahal, lebih dari itu, cerdas memiliki makna yang lebih luas, karena cerdas adalah ketika seseorang mampu mengoptimalisasikan fungsi kerja otak yang ia miliki.


Pusat intelektualitas kita diatur oleh otak besar (Cerebrum) yang terbagi menjadi belahan (Hemisfer) kiri dan kanan yang masing-masing memiliki tugas dan fungsinya. Otak kiri berhubungan dengan logika, rasio, membaca, dan menghafal sedangkan otak kiri berhubungan dengan kemampuan intuisi, social, imejenasi, dan kreatifitas. ( Roger Sperry).


Menurut penelitian para ahli, kebanyakan manusia di dunia hidup dengan lebih mengandalkan otak kirinya. Hal ini disebabkan oleh pendidikan formal (sekolah dan kuliah) lebih banyak mengasah kemampuan otak kiri.


Berbeda dengan Belanda. Pendidikan formal di Belanda mengasah kemampuan para akademisi untuk memaksimalkan potensi otak kiri dan kanan dengan memfasilitasi para pembelajar untuk melakukan riset-riset ilmiah. Menjadikan imajenasi tak lagi jadi sekedar khayalan tetapi mewujudkannya menjadi suatu kenyataan.


Kulit Anti Peluru
Tengok saja sang ilmuan asal Belanda Jalila Essaidi, ia membuat inovasi unik dengan menciptakan kulit antipeluru.

Mari bayangkan! Ketika banyak ilmuan berinovasi menyulap baju perang yang beratnya berton-ton menjadi rompi anti peluru, Essaidi dengan ide “Gila”nya ingin mengubah keratin protein yang bertanggung jawab pada kekerasan kulit manusia dengan sutra laba-laba. Dengan menyisipkan gen pembuat sutra laba-laba pada genome manusia sehingga terciptalah manusia antipeluru.

Atau sang ilmuan pecinta binatang Mark Post yang memikirkan bagaimana cara memenuhi kebutuhan pangan manusia dengan mengurangi angka kesakitan pada binatang. Ia mengembangkan sel induk otot sapi untuk tumbuh dan berkembang biak di laboratorium, sel-sel tersebut bisa menghasilkan burger sejuta kali lebih banyak daripada jika hewan tersebut disembelih untuk diambil daging. Seperti dimuat Daily Mail, Senin, 20 Februari 2012, Post berencana akan mengungkap daging ciptaannya berupa hamburger istimewa pada Oktober tahun ini.

         Berbagai inovasi “gila” lainnya yang tak lagi dapat disebutkan dicetak dari berbagai ilmuan lulusan institusi pendidikan di Belanda. Hal ini tercermin dari prestasi belanda yang mendapati urutan ke-3 negara dengan jumlah universitas terbanyak dalam World Reputation Ranking 2012 dan 85 % universitas riset di Belanda termaksud dalam 200 universitas terbaik di dunia dalam Data the Times Higher Education Supplement.

         Kini sekitar 81.700 mahasiswa internasional menempuh pendidikan di Belanda. Kesediaan belanda menampung para pembelajar dari berbagai macam negera dengan fasilitas lebih dari 1.400 program studi yang diberikan dalam Bahasa Inggris, menjadikan para akademisi dari berbagai Negara tersebut dapat terfasilitasi untuk memecahkan berbagai macam masalah dari masing-masing negaranya. Hal ini memungkinkan keanekaragaman inovasi riset di belanda akan lebih tinggi, “gila”, dan menantang.




 Ditulis Oleh : Hanifah Fitri

Kamis, 03 Mei 2012

99 Cahaya di Langit Eropa

  “99 Cahaya langit di Eropa” adalah sebuah buku yang diangkat dari kisah nyata perjalanan spiritual sang penulis Hanum Rais dan Rangga Almahendra di eropa. Kisah yang dibuat dalam bentuk novel membuat ceritanya ringan dan mengalir namun sarat akan nilai-nilai sejarah, kebudayaan, dan potret dunia islam di Eropa.
 Penulis mengisahkan perjalanan ke lima Negara yakni  Austria, Prancis, Spanyol, Turky, dan Arab Saudi.  Buku ini mengajak kita berfantasi menikmati keindahan bangunan-bangunan dan khazanah sejarah di kota-kota seperti wina, prancis, cordoba, istambul, dan di akhiri perjalanan ke tanah suci.
Di Austria penulis memaparkan seperti apa kehidupan kaum muslim sebagai kaum minoritas di eropa, melalui seorang tokoh non fiktif bernama fatma. Seorang muslimah turki yang taat  yang mengobarkan semangat dakwah di eropa dengan cara yang sederhana tetapi luar biasa. Bagi saya dia adalah sosok yang sangat menginspirasi dalam novel ini.
 Austria dan turki pernah memiliki sejarah kelam. Kara Mustafa seorang panglima perang kerajaan ottoman di turki yang juga masih satu garis keturunan sebagai kakek buyut fatma pernah melakukan ekspedisi penaklukan di Austria namun berujung pada kekalahan. Sejarah ini yang menimbulkan luka dalam orang-orang nonmuslim Eropa kepada turki, bahkan lebih dari itu, kepada Islam. Fatma hadir sebagai tokoh yang berusaha mengubah mind set orang-orang eropa yang kini mengidentikkan Islam dengan kekerasan melalui akhlaknya yang mulia yang kerap membuat beberapa orang eropa akhirnya tertarik pada Islam bahkan memutuskan menjadi muslim. Slogan fatma adalah “Menjadi Agen Muslim yang Baik “.
Di Perancis, Penulis mengajak kita lebih dari sekedar menikmati keindahan bangunan kota cantik itu tetapi juga keindahan sejarah Islam yang pernah bergaung indah di perancis melalui marion, seorang pakar sejarah yang kemudian menjadi muslim karena kekagumannya pada nilai-nilai Islam yang ia pelajari.  Marion menjelaskan tentang kalimat tauhid yang ditulis dengan tulisan arab kufic di kerudung  yang dikenakan bunda maria dalam salah satu koleksi lukisan di museum lovre, salah satu museum terkemuka di dunia. Sebenarnya apakah rahasia dibalik tulisan tauhid dalam lukisan yang disaksikan puluhan ribu orang pengunjung  museum dari berbagai  negara tersebut? Buku ini mampu menjawabnya dengan sangat manis.
Melalui buku ini penulis membolak-balikan perasaan pembaca dengan menelusuri lika-liku sejarah islam. Tentang kejayaannya yang terang benderang, sekaligus kakalahannya yang menyakitkan. Tentang kenyataan pahit kekalahan Islam di spanyol yang mengubah masjid mosquita menjadi tempat ibadah agama lain, sekaligus kemenangan Islam atas turki yang terabadikan melalui bangunan-bangunan seperti hagia Sophia, blue mosque, dan istana peninggalan kesultanan turki.
 Buku ini mengungkapkan nilai-nilai keindahan sejarah islam yang membuat saya menjadi begitu mencintai Islam, menguatkan keyakinan saya akan Islam, sekaligus menyadarkan kepada saya akan beban tugas sebagai seorang muslim untuk mengembalikan kejayaan islam melalui keindahan, kedamaian, dan kearifan yang di ajarkannya. Untuk menjadi seorang agen muslim yang berakhlak islam dan menebar kedamaian.
Saya kira buku ini perlu dibaca oleh seluruh muslim khususnya para aktivis dakwah Islam untuk sebagai bahan pengingatan bahwa sebagai muslim kita perlu menebarkan hakikat kedamaian dalam Islam serta menguasai ilmu pengetahuan. Sehingga musnahlan citra Islam yang kini diidentikkan dengan kebodohan, terbelakang, dan kekerasan. Karena dakwah  yang besar, dimulai dari sesuatu yang sederhana. Buku ini mengajak kita membangun peradaban islam dengan memulai dari akhlakul karimah dan ilmu pengetahuan.

Bacalah buku ini dengan untuk memperoleh semangat baru..
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu…




                                                                                           


                                                                                           

Jumat, 20 April 2012

the backpacker role


1.. Dilarang keras mengeluh --apalagi cengeng, nanti jadi sayur.

2. Jangan merusak apa pun, apalagi kalo tidak bisa ikut memperbaiki.

3. No sentimentalromantic journey (optional)

4. Di mana pun dirimu singgah, jangan meninggalkan sampah --sampah fisik maupun mental.

5. Hanya satu jalan yang tak bisa kita tempuh; hanya tepian langit!

6. Tidak ada sejarahnya meninggalkan teman hanya karena dia tidak bisa mengikuti kekuatan langkahmu.

7. No final destination.

8. Semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru.

9. Take nothing but picture. Leave nothing but footprint. Kill nothing but time!

10. Biasakan berdoa, bahkan bagi kalian yang tak percaya Tuhan sekalipun.

11. Jangan pernah menyakiti siapa pun yang kau temui di perjalanan, karena dunia betul2 selebar daun kelor. Suatu hari kau mungkin akan bertemu dengannya lagi di belahan bumi lain.

12. Kerendahan hati adalah mutlak, karena kita hanya sebutir debu di bumi-Nya ini. Kesombongan adalah kegagalan menjadi manusia.

13. Terakhir: Selalu yakin, matahari tenggelam masih jauh.


_Forum Backpacker Indonesia_