Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travelling. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Oktober 2012

Keliling Pulau Onrust, Pulau Kelor, Pulau Untung Jawa, dan Pulau Rambut

Ekosotika Pulau Ondrust



prasasti Pulau Onrust
Pulau ondrust berasal dari bahasa belanda yang apabila diformasikan ke bahasa inggris dari kata un-rest yang artinya tak beristirahat. Pulau ini dahulu adalah pulau tersibuk di Indonesia. Pulau ini menjadi basis pertahanan maritim belanda untuk menjaga daratan sunda kelapa (Jakarta). Tapi sampai sekarang pulau ini kosong. Hanya dihuni oleh satu orang penjaga pulau dan seorang ibu penjaga warung yang berjualan makanan dan minuman kecil namun saat malam ibu penjual kembali pulang  ke rumahnya di Jakarta. Sempat saya bertanya pada ibu penjual tentang siapa yang biasa membeli jualannya mengingat pulau ini sepi dan sulit di akses. “Ada saja neng, biasanya orang-orang bule”.



Saya menarik nafas panjang, bahkan turis asing lebih mencintai sejarah Indonesia ketimbang bangsanya sendiri. T_T
Di pulau ondrust kami menjelajahi museum yang dahulunya kantor VOC, dari museum ini kami mendapat gambaran seperti apa sibuknya pulau ini dahulu. Di museum ini terdapat peninggalan-peninggalan zaman belanda dan replika bangunan-bangunan yang sebagian sudah runtuh. Konon pulau ini memiliki simpanan harta tak ternilai peninggalan VOC yang dicuri era tahun 80an. Sebab itu pulau ondrust dijadikan sebagau pulau cagar budaya.
Reruntuhan barak karantina haji Pulau Onrust
 Puas mengelilingi penjara dan makam-makam belanda, kami pergi melihat reruntuhan barak karantina Haji. Zaman belanda, jemaah haji yang akan berangkat dan pulang dari tanah suci dikarantina di pulau ini selama satu bulan. Tujuannya untuk meredam semangat berjuang yang tumbuh paska pulang dari tanah suci. Setelah Indonesia merdeka, barak karantina ini digunakan untuk melokalisasi jemaah haji yang terkena sakit kusta. Kini barak karantina haji tak lagi difungsikan. Seiring tak lagi difungsikannya kapal sebagai sarana transport ke tanah suci. Kami hanya bisa melihat puing-puing sisa bangunan yang kosong. Butuh waktu bagi saya untuk menyadari bahwa di pulau tempat kaki saya berdiri pernah terjadi peristiwa sejarah yang luar biasa.
Pulau ondrust dekat sekali denga pulau cipir, dahulu terdapat jembatan penyebrangan sebagai akses kedua pulau ini. Namun sejak letusan Krakatau tahun 1883 jembatan ini runtuh. Saya sangat ingin menginjakkan kaki kesana. Tetapi waktu seolah tak mengzinkan.





Eksotika Pulau Kelor

Karena keterbatasan waktu, dari 3 pulau dalam gugus pulau ondrus kami hanya sempat mengunjungi pulau kelor. Sekedar informasi untuk pulau bidadari, dekat pulau ondrust, untuk berlabuh dipulau tersebut dikenakan biaya Rp. 50.000, sebab kabarnya pulau bidadari sudah dibeli oleh pihak Ancol. Pulau kelor, tak seorangpun yang menetap disana. Hanya ada sisa benteng berbata merah (benteng Martello) dan beberapa pohon perdu. Benteng Martello tak lagi utuh karena bencana tsunami tahun 1966 dan letusan Krakatau tahun 1883. Benteng Martello adalah pusat pengintaian dari pertahanan maritime belanda. Meriam dari benteng ini bisa  kami lihat di pulau ondrust. Benteng ini terletak paling tepi. benteng yang mirip cerobong asab ini melingkar membentuk sudut 360◦. Pulau yang dahulu lebih dikenal dengan pulau kherkof terancam tenggelam. Dahulu luas pulau ini 1.5 ha. Sekarang kurang dari 1 ha.  Itu sebabnya pulau ini didominasi pasir ketimbang tanah. Karena hamparan pasirnya luas, awalnya kami berencana shalat berjamaah dipulau ini tetapi karena udara terlampau panas niat tersebut kami urungkan.  Oh ya belakangan saya dengar pulau ini biasa menjadi tempat pemakaman. Dahulu, tahanan dan jemaah haji yang meninggal dikuburkan di pulau ini. Jika saja pulau kelor digali, kita akan menemukan banyak tengkorak manusia. Berbagai cerita mistis tentang pulau ini terutama tentang kucing-kucing yang hidup di pulau inii. Hgrr…




Bersenang-senang di Pulau Untung Jawa
Setelah puas mengeliligi pulau yang kaya akan sejarah, kami pergi menuju pulau Untung Jawa. Dengan kapal yang kami naiki, hanya butuh waktu 15 menit untuk bisa sampai ke Pulau tersebut dari pulau onrust. Melabuhkan perahu ke darmaga kapal kami dikenakan biaya Rp.35.000,00-. Pulau Untung Jawa termaksud Pulau wisata. Sebab itu, akses transportasi ke pulau ini relative lebih mudah. Bisa menggunakan kapal umum dari Muara Angke (Jakarta) dengan biaya Rp. 25.000,-atau dari pelabuhan Tanjung Pasir (Tanggerang) dengan biaya Rp. 10.000. Untung Jawa selain memiliki pantai yang Indah, terdapat juga taman tempat konservasi Mangrove, berbagai wahana bermain anak-anak dan banana boot, serta penginapan penduduk dengan  berbagai macam harga. Ditempat ini saya dan teman-teman menyewa tenda, bermain banana boot, shalat, dan makan bersama. Pulau ini cukup menyenangkan. \

Pulau Rambut si Pulau Burung.
Uniknya alam Indonesia, meski Pulau Rambut terletak dekat sekali dengan Pulau Untung Jawa, ia memiliki topogafi dan keunikan tersendiri. Berbeda dengan pulau disebelahnya Untung Jaw, di pulau yang luasnya tak sampai 1 ha ini, didiami lebih dari 50.000 jenis spesies burung. Apabila ingin pergi ke Pulau tersebut hanya perlu menyewa perahu dari Pulau Untung Jawa dengan Biaya Rp. 10.000,-. Jika ingin pergi dan melihat burung-burung bisa menyewa guide dengan Rp. 5000,- untuk jumlah peserta lebih dari 10 orang. Pulau rambut adalah penutup perjalanan kami, sayangnya sekali lagi karena keterbatasan waktu, kami tak sempat berkeliling-keliling pulau ini. Meski begitu kami tetap merasa senang. 

Catatan.
1.       Tak ada tranportasi umum untuk bisa pergi ke Pulau Onrust, Kelor, dan Cipir. Harus menyewa perahu dari Muara Angke, Muara Kamal, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Pelabuhan Tanjung pasir. Harga perahu Rp. 800.000,- sampai Rp. 2.000.000,- bergantung besar dan ukuran kapal.
2.       Pelabuhan terdekat dari pulau tersebut adalah pelabuhan Tanjung Pasir.
3.       Untuk menekan biaya, sebaiknya pergi ke Pulau gugus cagar budaya (P. Kelor, P. Onrust, P. Cipir) bersama komunitas.
4.       Sewalah perahu jauh hari dan berangkat pagi-pagi untuk menjauhi ombak yang relative lebih besar disiang hari.
5.       Jika ingin pergi ke Pulau gugus cagar budaya (P. Kelor, P. Onrust, P. Cipir), bawalah perbekalan makanan yang cukup, karena penjual makanan hanya ada di P. Onrust dan harganya relative lebih tinggi dari harga makanan umumnya.
6.       Pergi ke Pulau Untung Jawa bisa menggunakan kapal Transport kapasitas 150 orang berangkat dari Muara Angke Pukul 06.00-07.00 WIB dan jam 13.00-14.00 WIB dengan harga Rp. 25.000,- Atau mengguanakan perahu nelayan dari Pelabuhan Tanjung Pasir Rp. 10.000-Rp. 20.000. Waktu perjalanan dari kedua pelabuhan tersebut sekitar 20-30 menit.
7.       Pergi ke Pulau Untung Jawa juga bisa menggunakan kapal kerapu (Kapal Boot), dari ancol dengan harga Rp. 25.000* berangkat pukul 06.00 WIB dan 13.00 WIB. Akan tetapi, perahu ini sering menjadi minta para wisatawan sehingga banyak wisatawan akhirnya tak mendapat tiket. Bahkan beberapa wisatawan yang ingin menggunakan kapal ini mengantri sejak jam 03.00 pagi demi mendapatkan tiket kapal. Jika Ombak besar, kapal kerapu pukul 13.00 WIB tidak diberangkatkan.

8.       Untu bisa pergi kepulau rambut bisa menggunakan jasa perahu nelayan dari Pulau Untung Jawa Rp. 10.000-Rp. 20.000*

Rabu, 26 September 2012

Perjuangan Ke Pulau Onrust


Setiap kali saya melewati laut Jakarta, Mata saya selalu tertuju pada pulau Ondrust dan kelor. Pulau kelor  ini kecil, berpasir, dengan sisa bangunan benteng tua, dan satu buah pohon besar. Jika tidak benar-benar menginjakkan kaki kepulau tersebut, setiap orang yang melihat akan berpikir, pohon besar itu adalah satu-satunya pohon di Pulau kelor. Ondrust pun tak kalah menantang, tak jauh dari pulau kelor, reruntuhan bangunannya yg padat mengisyaratkan misteri yang membuat hati saya dihinggapi rasa penasaran yang membuncah. Kemisteriusannya memanggil-mangil hati saya menciptakan kebulan mimpi baru yang ingin saya wujudkan.

“Suatu hari saya akan kesana!”
Pergi ke Pulau Ondrus, dan kelor tak semudah pergi kepulau seribu lainnya. Kedua pulau itu adalah pulau cagar budaya. Tak ada kapal umum yang berlabuh disana. Harus menyewa perahu dari pelabuhan Jakarta, atau pelabuhan Tanjung Pasir tanggerang. Biaya sewa kapal berkisar Rp. 800.000- Rp. 2.000.000, bergantung besar dan ukuran kapal.
Saya mencoba mencari kapal kecil di muara angke, tempat banyak kapal-kapal umum menyewakan jasa transportasi umum ke beberapa pulau seribu. Tak satu pun kapal yang berhenti di Pulau Ondrust. Saya pergi menawar kapal-kapal kecil pada nelayan-nelayan disekitar muara tersebut. Tawar-menawar berlangsung alot, semakin saya menawar semakin teriris rasanya hati ini.
“Pak, delapan ratus ribu aja ya pak? murahinlah pak sama mahasiswa, kantungnya tipis-tipis, belum pada kerja”. Bujukku.
“Nggak kurang lagi neng, neng enak jadi mahasiswa, punya masa depan. Makan tinggal makan, saya hari ini makan, besok belum tentu bisa makan, buat anak istri semua serba kurang”. Jawab nelayan penjaga kapal milik seorang saudagar china.
Miris rasanya, puluhan buruh nelayan berkulit legam selegam kehidupan yang menyapa mereka justru menjadi budak di negeri sendiri yang kaya alamnya. Sementara orang kulit putih, setiap hari jutaan uang mengalir untuknya, tersembunyi dalam bungunan-bangunan tinggi tak jauh dari perkampungan kumuh nelayan pribumi dalam komplek perumahan mewah. Beginikah sisi kelam kehidupan negeriku. Negeri yang amat kucintai.
Dengan perasaan nyaris putus asa saya pergi beranjak pulang. Sampai akhirnya pertolongan Allah datang. Tak sengaja saya bertemu dengan seorang ikhwan kepanduan disana. Berkat bantuannya saya bisa mendapatkan kapal untuk pergi kelima pulau-pulau sekitar ondrus dengan biaya Rp. 1.000.000, kapasitas 50 orang dengan fasilitas 1 kamar mandi.
Dengan biaya Rp. 1.000.000 dibagi 30 orang, kami hanya perlu patungan Rp 30.000 untuk bisa pualng-pergi berkeliling-keliling pulau kelor, ondrus, rambutan dan untung jawa. Alhamdulillah..

HOREE!! KITA JADI KEPUALU ONDRUST!



(Bersambung)

Selasa, 07 Februari 2012

Berkelana adalah takdir

"Lebih dari sekedar hobi berkelana tampaknya adalah takdirku".
Ungkapan ini mungkin terdengar "lebay", haha.. yah, tapi sepertinya memang begitulah. Kalau aku tilik dari sejarah pengalaman hidupku sejak kecil, ayah, ibu, mbah, dan saudara lain, mereka akan menceritakan kenakalanku tentang bagaimana aku berpetualang ala anak-anak kecil jaman dulu.
Sejak kecil aku sudah mencintai alam. Saat usia sekitar 3 tahun, aku tinggal dekat taman kanak-kanak yang memiliki banyak wahana bermain. Akan tetapi, kata ibu aku tak seperti anak-anak disekitarku yang senang bermain bersama di wahana tersebut. Aku lebih memilih bermain sendiri menumpuk batu-batu dan ranting menjadi sebuah bangunan.
Saat usiaku memasuki masa TK, aku sering hilang dicari “orang sekampung”. Biasanya mereka akan menemukanku di daerah persawahan terdekat atau di kebun kecapi. Oleh sebab itu, nenekku menggembok pintu pagar rumah agar aku tak kembali hilang. Namun keesookan harinya nenekku mendapati aku tengah memanjat pagar sambil diteriak-teriaki tetangga depan. Nenekku tak lagi mengizinkanku bahkan untuk sekedar main di halaman. Nenek mengunci pintu rumah agar aku tidak kembali hilang.
Begitula sejarah masa kecilku, sejak kecil aku memang punya ketertarikan tinggi pada alam. Ketika banyak gadis-adis seusiaku mengoleksi gambar-gambar anime atau boneka-boneka disney, aku lebih memilih mengoleksi berbagai gambar pemandangan indah dari beragam topografi di dunia. Kemudian aku bermimpi suatu hari aku akan berjalan ke tempat-tempat dalam koleksi gambarku.
Bagiku berjalan adalah suatu keindahan. Meski kulit harus terbakar karenanya, meski tubuh menjadi ringkih di rundung dingin, meski kaki lelah berjalan, meski harus bersusah payah mencari uang untuk menutupi biaya perjalanan, aku menemukan kenikmatan tersendiri. Karena bagiku, berjalan seperti oksigen, ia terbebas lepas lalu masuk mengalir bersama aliran darah menghidupi mimpi-mimpiku. Ia la adalah suatu proses pembelajaran tentang manusia dan hal yang membuat ku belajar menjadi manusia.

Perjalanan memberiku banyak pelajaran.Ia adalah suatu proses pengajaran tentang manusia dan hal yang membuat ku belajar menjadi manusia. Saat kakiku lelah mendaki, aku belajar bahwa tak ada prestasi yang bisa dibanggakan tanpa sebuah kerja keras. Saat mengamati kerasnya hidup seorang petani dan nelayan, aku belajar mengahargai tiap suap nasi yang ku nikmati dan tak ada satupun sesuatu yang aku nikmati yang bukan dari hasil pengorbanan orang lain. Dari panas, dari dingin, dari malam, dari hujan, dari bintang yang bertaburan, dari lembah yang menghijau, padi yang menguning, laut yang biru aku bersyukur karena Tuhan telah menakdirkan ku hidup untuk menyaksikan keharmonian lukisanNya yang sempurna.

Maka dari situ, ku bisikkan doa kecil ku kepada pemilik alam. "Tuhanku, izinkanlah aku menjadi seorang pengelana dunia".